Minggu, 03 Mei 2015

SELAYANG PANDANG POLINDES DESA KEDUNGSEKAR

SELAYANG PANDANG POLINDES DESA KEDUNGSEKAR
KECAMATAN BENJENG KABUPATEN GRESIK

Latar Belakang Pendirian
Tampak smping Gedung Polindes
Sebelum dibangun gedung Polindes di Desa Kedungsekar, warga sering mengalami kesulitan akses menuju layanan kesehatan. Jarak layanan kesehatan yang sudah ada pada saat itu terletak jauh dengan permukiman sekitar desa. Sebenarnya bidan desa sudah aktif di sana, tetapi terkendala oleh fasilitas layanan yang tidak memadai. Layanan kesehatan ibu hamil, balita, dan lansia dilakukan bercampur dengan gedung sekolah yang kondisinya ramai. Bila ada persalinan menjadi tidak kondusif dan membahayakan kesehatan ibu dan anak. Maka pada Penggalian gagasan Dusun pada tahun 2010, masyarakat di semua dusun juga mengelukan hal itu, maka dimasukan dalam usulan desa. Pada tanggal 22 April 2010 bertepatan pada Musyawarah Desa II (Perencanaan) disepakati usulan pembangunan gedung kesehatan / Polindes. Usulan tersebut kemudian tersusun menjadi proposal yang diajukan Desa Kedungsekar pada PNPM Mandiri perdesaan kecamatan Benjeng. Pada Musyawarah Antar Desa Prioritas usulan 11 Maret 2011 usulan ini dikawal tim desa dan diperjuangkan. Pada MAD perengkingan ini usulan Gedung Polindes desa Kedungsekar menempati urutan penilaian 1 untuk usulan kesehatan. Kemudian pada tanggal 15 juni 2011, usulan ini ditetapkan pada Musyawarah antar desa penetapan usulan
Ruang Periksa dan Inap
Gedung Polindes/Ponkesdes  Desa Kedungsekar dibangun dilokasi Dusun Kedungsekar Kidul (dekat dengan Kantor Balai Desa Kedungsekar) dengan ukuran bangunan 12 x 6 m, terdiri dari 4Ruang, yaitu Ruang Persalinan, Ruang Pelayanan dan Konsultasi Pasien, Ruang Pemeriksaan dan Pengobatan Pasien, dan Tempat Inap Bidan Desa  serta Asisten Bidan Desa.
Jumlah masyarakt desa yang terlayani langsung  oleh kehadiran gedung ini adalah 3113 orang, dengan 1711 orang ( berkategori rumahtangga miskin.
Gedung ini dibangun  menggunakan dana BLM PNPM MPd Tahun Anggaran 2011dan swadaya masyarakat Desa Kedungsekar, dengan rincian sebagai berikut

NO.
SUMBER DANA
JUMLAH BANTUAN
1.
BLM PNPM MPd TA. 2011
Rp. 118.158.400,-
2.
Swadaya Masyarakat
Rp.   19.042.800,-
TOTAL BANTUAN
Rp. 136.054.800,-
Ruang Obat 
Usulan pembangunan polindes ini digagas dari ide kelompok perempuan Desa Kedungsekar. Proses perencanaan sampai pembangunan dilakukan dalam kurun waktu 1 tahun anggaran, dengan melibatkan semua pemangku kepentingan desa, melalui musyawarah perencanaan dan musyawarah antar desa  prioritas dan penetapan. Bangunan diserahterimakan kepada desa oleh TPK PNPM MPd pada tanggal 30 Nopember 2011. Oleh Desa kemudian ditindaklanjuti dan dicatat menjadi aset desa untuk dipelihara dan digunakan sesuai dengan tujuan pembangunan. Pemeliharaan dan pemanfaatan bangunan dilakukan langsung oleh desa dan bidan desa.

I.              Dampak Pembangunan Gedung Polindes
Setelah diserahterimakan, gedung ini langsung difungsikan dengan fokus layanan sebagai berikut :
1.    Pemantauan kesehatan ibu hamil
2.    Pertolongan darurat perasalinan ibu hamil
3.    Pemantauan kesehatan balita
4.    Layanan KB
5.    Imunisasi balita
6.    Pemaeriksaan dan pemantauan kesehatan lansia.
Layanan dilakukan 7 hari dalam seminggu, dengan pola piket jaga Bidan dan asisten bidan, sehingga bila sewaktu waktu mayarakat desa membutuhkan dapat terpenuhi. Kebutuhan obat-obatan dipasok dari puskesmas terdekat.  Sehingga menurut pengakuan asisten bidan Aprilia, ada beberapa obat yang bersifat gratis.
Sampai sejauh ini polindes Desa Kedungsekar telah melakukan dan membantu proses kelahiran dan pemantauan ibu hamil paling tidak 2-4 orang ibu hamil dan melahirkan tiap hari. Sebagian besar berasal dari  lingkungan Desa Kedungsekar danada juga yang dari luar desa.

Yang menjadi keunggulan gedung polindes ini adalah, adanya layanan proses persalinan dan layanan perawatan pasca persalinan. Bagi keluarga  miskin yang tidak mampu mengakses rumah sakit, kehadiran polindes dengan layanan seperti ini menjadi sangat berarti. (KPMD)



Kenangan Kunjungan World Bank Ke Desa Kedungsekar


Rombongan World Bank asia Pasifik Berkunjung Ke desa Kedungsekar

Ramah Tamah Tim world Bank Dengan Warga Desa
Pada hari Minggu, tangga 10 Nopember 2013, tepat pukul 09.30 WIB. Rombongan world Bank Wilayah asia pasifik yang terdiri dari 5 Orang, Yang dipimpin Oleh Mr.  Axel Van Trotsenburg  selaku wakil Presiden World Bank Asia Pasifik, Mr Cris, Mrs. Rosio castro selaku Staff wakil Presiden World Bank Asia Pasifik , Rodriques Selaku Perwakin  World Bank Indonesia serta Mrs. Suzana dari Perwakilan World bank untuk Supor fasility PNPM Mandiri Perdesaan tiba dibenjeng.
Mengunjungi Polindes hasil Pembangunan PNPM MPd
Dengan Misi Kunjungan untuk melihat atau perkembangan bidang kesehatan terutama Gedung Kesehatan yang dibangun Oleh PNPM MPd dikecamatan benjeng.
Rute kunjungan mulai darii melihat kondisi dan pelayanan Puskesmas Benjeng kemudian menuju Polindes desa kedungsekar, disini ada dialog antara Bidan  Desa, Bu Nataly dengan Rombongan, rombongan melihat kondisi dan standar prosedur pelayanan di polindes
mengunjungi Kerajinan Tenun Sarung
Setelah berkunjung ke Polindes, rombongan menuju Pendopo Balai Desa dan mengadakan dialog dengan masyarakat, dalam sambutannya Mrs. Axel sangat terkesan dengan antusias warga dan penyambutan, apalagi sudah mengetahui keterangan dari Bidan desa tentang fungsi Polindes yang dibangun PNPM MPd, beliau juga menyampaikan bahwa peran perempuan sangat lah penting dalam program pemberdayaan ini, untuk itu peran dan fungsi perempuan untuk terus ditingkatkan karena “ laki-laki adalah kepala keluarga sedangkan perempuan adalah lehernya” ,ucapnya. untuk itu beliau sangat mendukung kegiatan PNPM MPd. Kemudian sharing dan perkenalan dari semua rombongan kemudian dialog langsung dengan masyarkat mengenai potensi, kesulitan dan manfaat dari program PNPM MPd.


foto bersama 
Setelah dialog rombongan menuju Rumah ibu munjiati, selaku anggota SPP PKK tulip yang mempunyai usaha produktif sarun tenun, disini rombongan meninjau lokasi produksi dan berdialog  dengan pemilik, ketua kelompok dan pekerja yang ada, baik tentang pembuatan maupun tentang sejarah usaha dan bergabung dengan PNPM MPd, beberapa rombongan sangat terkesan ini dibuktikan dengan mereka membeli beberapa sarung sebagai oleh-oleh.
Kemudian rombongan makan siang dirumah warga, atau rumah bu mujiati dengan kesan sederhana lesehan dan mereka tampak menikmati masakan tradisonal yang disajikan diantaranya, sayur bening, sayur asem, sambel, ikan geri, bandeng dan botokan, mereka terlihat sangat puas dengan masakan yang disajikan. Tepat pukul 13.00 WIB rombongan bertolak menuju surabaya (KPMD/H4d1)

(http://pnpm-support.org/id/news/regional-vice-president-world-bank-visit-pnpm-mandiri-location-axel-highlights-importance)
semoga hasil kunjungan dibenjeng menjadi sebuah evaluasi dan  keberlangsungan Program PPNPM MPd kedepan”

Desa dan Sejarah Desa

KEDUNGSEKAR


Desa Kedungsekar terletak di wilayah utara Kecamatan Benjeng. Kedungsekar terbagi dalam 3 dusun, yaitu Kedungkakap, Kedungsambi, Kedungsekar Kidul dan Kedungsekar Lor. Batas-batas wilayah sebelah utara Desa Klampok, sebelah selatan Desa Dermo, sebelah barat Desa Klampok dan sebelah timur Desa Lengkong Kecamatan Cerme.

Kedungsambi
Menurut cerita warga, Kedungsambi adalah kampung paling awal yang di sinyalir terbentuknya cikal bakal Desa Kedungsekar. Kedungsambi berasal dari dua kata, yaitu kedung dan sambi. Kedung mempunyai arti daerah yang memiliki banyak sumber mata air. Terbukti, dari kawasan tersebut banyak sekali warga yang memiliki sumur, baik sumur galian maupun bor, dan itu pun tidak terlalu dalam dari permukaan tanah. Kedung ada juga yang mengartikan tempat yang curam.

Sedangkan kata “sambi” sendiri mempunyai arti sampingan. Seorang warga menuturkan, maksudnya adalah tidaklah bisa seseorang bisa sukses jika pekerjaannya hanya dijadikan kerjaan sampingan apalagi dikerjakan dengan sikap santai. Maka setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras. Dan nantinya dapat dirasakan hasilnya, akan berkumpul dan bisa mencapai kemakmuran dengan sendirinya.
Konon, sesepuh desa yang babat alas atau mengawali berdirinya perkampungan Dusun Kedungsambi adalah Syeikh Mbah Melati. Beliau diyakini merupakan salah seorang dari murid kanjeng Sunan Giri (Gresik). Dan disinyalir dari penampakan gaib para sesepuh desa yang terdahulu, bahwa Syeik Mbah Melati berkendara kuda putih dan kerap kali mengitari dusun Kedungsambi guna menjaga keamanan dusun tersebut.
Di duga tempat napak tilas dan pesarean beliau bertempat di sebelah barat desa. Menurut sesepuh dusun, dulu dipenuhi rimbunan pohon asem dan beringin yang sangat besar. Namun dengan seringnya banjir dan rendahnya kawasan tersebut, tempat yang dikeramatkan tersebut terkikis dan menjadi kedung/kubangan. Sehingga tempat tersebut tidak terawat lagi.

Dusun Kedungsekar Kidul
Berdasarkan penuturan sesepuh dusun, “kedung berarti kubangan yang luas, dan sekar berarti kembang atau bunga. Sedangkan kidul, sebagai pembeda atau pembatas antara dua kampung di Desa Kedungsekar tersebut yaitu Kedungsekar Lor dan Kedungsekar Kidul. Lor berarti utara, dan kidul artinya selatan.
Kampung ini dipercayai mempunyai seorang danyang atau leluhur sebagai penjaga dusun dan juga dipercaya yang mengawali lahirnya Dusun Kedungsekar. Beliau biasa di panggil atau disebut Mbah Pandansari. Merupakan kerabat dari Syeikh Mbah Melati leluhur atau danyang desa Kedungsambi.
Alkisah disebutkan, bahwasanya dulu desa kedungsekar banyak di huni kumpulan “boyo” (buaya ). Namun berkat keberanian dan kesaktiannya, beliau dapat mengusir buaya-buaya tersebut sehingga aman. Kawasan tersebut bisa di huni masyarakat dengan aman dan tanpa rasa was-was dari gangguan buaya tersebut. Para tetua desa memercayai bahwa Mbah Pandansari bernapak tilas hingga akhir hayatnya di sebelah selatan desa yang di tumbuhi sebuah pohon asem.
Dan sedikit petikan cerita, antara percaya dan tidak. Bukti dari kekuasan Tuhan yang maha pencipta tentunya, dan karomah dari Mbah Pandansari. Tatkala ada serangan dari penjajah belanda, tempat pesarean atau napak tilas beliau yng di tumbuhi sebuah pohon asem. Dapat melindungi dari banyaknya warga yang bersembunyi atau berteduh di bawahnya. Untuk menghormati jasanya, para sesepuh desa terdahulu kerap kali mengadakan barik’an (doa bersama) dan pagelaran wayang kulit saat ada acara-acara desa, seperti malam peringatan hari kemerdekaan atau acara tegal desa.

Dusun Kedungsekar Lor
Berdasarkan uraian dari desa Kedungsekar Kidul, tidaklah jauh beda dengan desa Kedungsekar Lor. Hanya jarak antara lor (utara) sebagai kampung sebelah utara, dan kidul (selatan) sebagai kampung sebelah selatan. Namun cerita tempat keramat dari desa kedungsekar lor tentunya berbeda.
Konon dipercayai bahwa tempat keramat desa ini berada di sebelah utara desa. Tempat ini dahulu berupa punden, semacam candi kecil, tempat peribadatan umat hindu. Tempat ini di pakai sebagai tempat penyembahan kepada leluhur mereka. Namun, lambat laun tempat ini hancur dan karena tempatnya yang agak rendah, tempat ini menjadi tempat menggenangnya air dan juga banyak ditumbuhi bambu.
Penyebutan tempat di beberapa lokasi terdapat nama-nama yang unik. Antar lain di sebelah timur desa, yang kini menjadi tanah garapan lurah atau tanah bengkok, tempat ini biasa di disebut segoroan. Di lokasi lain ada yang disebut bathang (bangkai) gajah”, disebut bangkai gajah karena pada saat penjajahan belanda, ditempat ini banyak warga yang meninggal dunia dan di kumpulkan jadi satu di kubur secara masal.

Dusun Kedungkakap
Berdasarkan penuturan warga yang dia dapat dari sesepuh desa terdahulu, Kedungkakap berasal dari gabungan dua kata, yaitu “Kedung dan Kakap”. Kedung berarti kubangan yang luas pada belokan sungai. Dan kakap diambil dari kata jawa mengkap-mengkap”, yaitu mulut ikan yang membuka dan menutup.
Menurut cerita warga, dahulu di kedung tersebut banyak sekali ikan dan besar-besar. Dari atas permukaan air terlihat kepala ikan, dan mulut ikan yang membuka dan menutup, seolah seperti bernafas atau meminta makan.
Tempat yang dikeramatkan oleh warga pada jaman dahulu terdapat di sebelah barat desa dan barat telaga yang masih ditumbuhi sebuah pohon asem. Jaman dulu warga biasa memohon berkah dan berdoa do pesarean ini.
Namun karena peradaban jaman dan masuknya islam, tempat yang dulunya diketahui berupa dua kuburan, sekarang sudah hilang tanpa diketahui sebab musababnya. Hanya sesekali di tempat ini terdapat kembang dan sesajen kecil yang biasa ditaruh ketika ada warga yang mempunyai hajatan.(sumber buku babat alas benjeng)