Minggu, 03 Mei 2015

Desa dan Sejarah Desa

KEDUNGSEKAR


Desa Kedungsekar terletak di wilayah utara Kecamatan Benjeng. Kedungsekar terbagi dalam 3 dusun, yaitu Kedungkakap, Kedungsambi, Kedungsekar Kidul dan Kedungsekar Lor. Batas-batas wilayah sebelah utara Desa Klampok, sebelah selatan Desa Dermo, sebelah barat Desa Klampok dan sebelah timur Desa Lengkong Kecamatan Cerme.

Kedungsambi
Menurut cerita warga, Kedungsambi adalah kampung paling awal yang di sinyalir terbentuknya cikal bakal Desa Kedungsekar. Kedungsambi berasal dari dua kata, yaitu kedung dan sambi. Kedung mempunyai arti daerah yang memiliki banyak sumber mata air. Terbukti, dari kawasan tersebut banyak sekali warga yang memiliki sumur, baik sumur galian maupun bor, dan itu pun tidak terlalu dalam dari permukaan tanah. Kedung ada juga yang mengartikan tempat yang curam.

Sedangkan kata “sambi” sendiri mempunyai arti sampingan. Seorang warga menuturkan, maksudnya adalah tidaklah bisa seseorang bisa sukses jika pekerjaannya hanya dijadikan kerjaan sampingan apalagi dikerjakan dengan sikap santai. Maka setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras. Dan nantinya dapat dirasakan hasilnya, akan berkumpul dan bisa mencapai kemakmuran dengan sendirinya.
Konon, sesepuh desa yang babat alas atau mengawali berdirinya perkampungan Dusun Kedungsambi adalah Syeikh Mbah Melati. Beliau diyakini merupakan salah seorang dari murid kanjeng Sunan Giri (Gresik). Dan disinyalir dari penampakan gaib para sesepuh desa yang terdahulu, bahwa Syeik Mbah Melati berkendara kuda putih dan kerap kali mengitari dusun Kedungsambi guna menjaga keamanan dusun tersebut.
Di duga tempat napak tilas dan pesarean beliau bertempat di sebelah barat desa. Menurut sesepuh dusun, dulu dipenuhi rimbunan pohon asem dan beringin yang sangat besar. Namun dengan seringnya banjir dan rendahnya kawasan tersebut, tempat yang dikeramatkan tersebut terkikis dan menjadi kedung/kubangan. Sehingga tempat tersebut tidak terawat lagi.

Dusun Kedungsekar Kidul
Berdasarkan penuturan sesepuh dusun, “kedung berarti kubangan yang luas, dan sekar berarti kembang atau bunga. Sedangkan kidul, sebagai pembeda atau pembatas antara dua kampung di Desa Kedungsekar tersebut yaitu Kedungsekar Lor dan Kedungsekar Kidul. Lor berarti utara, dan kidul artinya selatan.
Kampung ini dipercayai mempunyai seorang danyang atau leluhur sebagai penjaga dusun dan juga dipercaya yang mengawali lahirnya Dusun Kedungsekar. Beliau biasa di panggil atau disebut Mbah Pandansari. Merupakan kerabat dari Syeikh Mbah Melati leluhur atau danyang desa Kedungsambi.
Alkisah disebutkan, bahwasanya dulu desa kedungsekar banyak di huni kumpulan “boyo” (buaya ). Namun berkat keberanian dan kesaktiannya, beliau dapat mengusir buaya-buaya tersebut sehingga aman. Kawasan tersebut bisa di huni masyarakat dengan aman dan tanpa rasa was-was dari gangguan buaya tersebut. Para tetua desa memercayai bahwa Mbah Pandansari bernapak tilas hingga akhir hayatnya di sebelah selatan desa yang di tumbuhi sebuah pohon asem.
Dan sedikit petikan cerita, antara percaya dan tidak. Bukti dari kekuasan Tuhan yang maha pencipta tentunya, dan karomah dari Mbah Pandansari. Tatkala ada serangan dari penjajah belanda, tempat pesarean atau napak tilas beliau yng di tumbuhi sebuah pohon asem. Dapat melindungi dari banyaknya warga yang bersembunyi atau berteduh di bawahnya. Untuk menghormati jasanya, para sesepuh desa terdahulu kerap kali mengadakan barik’an (doa bersama) dan pagelaran wayang kulit saat ada acara-acara desa, seperti malam peringatan hari kemerdekaan atau acara tegal desa.

Dusun Kedungsekar Lor
Berdasarkan uraian dari desa Kedungsekar Kidul, tidaklah jauh beda dengan desa Kedungsekar Lor. Hanya jarak antara lor (utara) sebagai kampung sebelah utara, dan kidul (selatan) sebagai kampung sebelah selatan. Namun cerita tempat keramat dari desa kedungsekar lor tentunya berbeda.
Konon dipercayai bahwa tempat keramat desa ini berada di sebelah utara desa. Tempat ini dahulu berupa punden, semacam candi kecil, tempat peribadatan umat hindu. Tempat ini di pakai sebagai tempat penyembahan kepada leluhur mereka. Namun, lambat laun tempat ini hancur dan karena tempatnya yang agak rendah, tempat ini menjadi tempat menggenangnya air dan juga banyak ditumbuhi bambu.
Penyebutan tempat di beberapa lokasi terdapat nama-nama yang unik. Antar lain di sebelah timur desa, yang kini menjadi tanah garapan lurah atau tanah bengkok, tempat ini biasa di disebut segoroan. Di lokasi lain ada yang disebut bathang (bangkai) gajah”, disebut bangkai gajah karena pada saat penjajahan belanda, ditempat ini banyak warga yang meninggal dunia dan di kumpulkan jadi satu di kubur secara masal.

Dusun Kedungkakap
Berdasarkan penuturan warga yang dia dapat dari sesepuh desa terdahulu, Kedungkakap berasal dari gabungan dua kata, yaitu “Kedung dan Kakap”. Kedung berarti kubangan yang luas pada belokan sungai. Dan kakap diambil dari kata jawa mengkap-mengkap”, yaitu mulut ikan yang membuka dan menutup.
Menurut cerita warga, dahulu di kedung tersebut banyak sekali ikan dan besar-besar. Dari atas permukaan air terlihat kepala ikan, dan mulut ikan yang membuka dan menutup, seolah seperti bernafas atau meminta makan.
Tempat yang dikeramatkan oleh warga pada jaman dahulu terdapat di sebelah barat desa dan barat telaga yang masih ditumbuhi sebuah pohon asem. Jaman dulu warga biasa memohon berkah dan berdoa do pesarean ini.
Namun karena peradaban jaman dan masuknya islam, tempat yang dulunya diketahui berupa dua kuburan, sekarang sudah hilang tanpa diketahui sebab musababnya. Hanya sesekali di tempat ini terdapat kembang dan sesajen kecil yang biasa ditaruh ketika ada warga yang mempunyai hajatan.(sumber buku babat alas benjeng)


3 komentar: